Menanamkan Sikap Optimisme pada Jiwa Anak
Banyak masalah yang ditemui anak sehari-harinya bisa membuat mereka merasa pesimis. Hal tersebut bisa membuat anak menjadi kurang percaya dan tidak berani mengambil risiko. Karena itu, sebagai orang tua, Anda membantu anak menumbuhkan sikap optimisme. Sikap optimisme tak cuma berguna untuk meningkatkan kepercayaan diri anak. Melainkan bisa membuat anak lebih siap menghadapi dinamika kehidupan dan masa depan yang penuh tantangan. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa orang yang memiliki sikap optimisme akan jauh dari rasa frustasi selalu bersemangat, tidak mudah sakit, mampu membangun hubungan yang harmonis, dan lebih panjang umur.
Mempunyai sikap optimis, tentu sangat penting bagi anak-anak. Ini karena optimisme terkait dengan motivasi dan kebesaran hati dalam menghadapi masalah atau dalam mewujudkan cita-cita. Anak yang optimis akan memiliki keyakinan hati yang lebih besar untuk bisa menyelesaikan masalahnya. Anak yang optimis akan memiliki motivasi yang lebih besar untuk bisa mencapai cita-citanya, targetnya atau tujuannya. Tetapi bagaimana kita bisa mengajarkan mereka untuk bisa optimis? Kita tidak bisa mengajaknya dengan semata-mata menyuruh anak agar optimis. Ini tidak mungkin. Optimisme bukan sebuah pengetahuan. Optimisme juga bukan sebuah karakter bawaan dari lahir atau karena keturunan, tapi sebuah kualitas yang didapat setelah melakukan proses pendidikan, latihan, dan pengalaman yang terus menerus. Saat yang tepat untuk mengajarkan optimisme adalah menunjukkan sikap dan sifat kita yang selalu optimis dalam menghadapi masalah hidup atau kenyataan. Dengan cara ini, anak akan langsung bisa melihat bagaimana kita ber-optimis.
Untuk menambah pemahaman anak tentang apa yang kita lakukan, temukan kalimat yang bisa menjelaskan ke anak. Misalnya petuah bijak, ungkapan pribadi yang pendek, atau ajaran yang kita pedomani. Anak akan selalu mengingat apa yang diungkapkan orangtuanya sampai tua. Ini bukan saja terjadi dalam film-film, tapi akan terjadi juga pada kita. Mengajarkan optimisme juga bisa dilakukan saat anak menghadapi masalah, misalnya sedang gagal atau nilainya sedang jatuh atau sedang punya masalah dengan temannya. Kita bisa menceritakan pengalaman kita, menjelaskan ajaran, atau pedoman hidup kita. Mengajak anak untuk mengobservasi pengalaman orang lain, baik melalui tulisan atau tayangan, atau dengan cara langsung, juga sangat bagus untuk menularkan optimisme.
Yang juga penting untuk melatih optimisme pada anak adalah selalu mengajarkan makna hidup positif, pandangan positif, dan opini yang membesarkan hati. Ini tepat dilakukan saat momennya datang, misalnya sedang ada peristiwa atau masalah. Seringkali ada hal yang dilupakan orang saat memahami atau memahamkan optimisme itu. optimisme itu bukan sekedar meyakini adanya hal-hal positif untuk semata menghibur hati, meskipun ini terkadang baik. Optimisme adalah menggunakan keyakinan itu untuk melakukan sesuatu atau mempersiapkan sesuatu. Kalau hanya meyakini, lebih-lebih keyakinan itu berlebihan atau tidak mendasar, ini bisa membahayakan. Hal inilah yang jangan sampai lupa kita ajarkan. Optimisme merupakan hal yang amat penting bagi masa depan seseorang. Sebab, optimisme mempengaruhi perkembangan, kemajuan dan kesuksesan seseorang. Sering kali seseorang menjadi tidak progresif, aktif dan kreatif akibat kehilangan optimisme dan kepercayaan dirinya dalam menatap masa depannya. Ia menghadapi hidup dengan pesimis, minder, tidak bersemangat dan mudah putus asa.
Optimisme ternyata banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Dalam hal ini selain lingkungan, faktor orang tua dan guru sangatlah signifikan dalam membangun kepercayaan dirinya. Kita, sebagai orang tua (termasuk guru), tentunya ingin menjadi orang tua dan guru yang sukses. Guru bisa disebut sukses, bila anak didiknya menjadi sukses, dan bahkan kesuksesannya melampaui dirinya. Tiada yang paling membuat bahagia seorang pendidik, selain kesuksesan anak didiknya. Tentu tidak masuk akal bila ada orang tua atau guru yang tidak ingin anak didiknya lebih sukses dan lebih pintar daripada dirinya. Jika ada seorang guru yang khawatir kesuksesannya dan keahliannya akan tersaingi oleh muridnya, tentu patut dipertanyakan ke”guru”annya dan keikhlasan niatnya. Jika seorang guru menginginkan kesuksesan anak didiknya, sudah seharusnya ia akan berusaha membangun optimisme pada diri anak didiknya, dan menghindari sikap yang membuatnya pesimis dan menjadi rendah diri, sebab pesimisme akan membuatnya terjerumus pada jurang kemunduran dan keterpurukan. Hanya saja, banyak dari kita, secara sadar atau tidak, tidak jarang malah menjadi sebab kehancuran masa depan anak, dengan merusak optimismenya, dan kepercayaan dirinya.
Di antara sikap buruk yang membuat anak tidak percaya diri, rendah diri dan pesimis adalah saat kita mengacuhkannya, meremehkannya, menganggapnya tidak bisa, tidak ahli, tidak cerdas dan lain sebagainya. Anak akan merasa optimis dan percaya diri, bila ia diberi kepercayaan dibesarkan hatinya dengan disebut cerdas, mampu dan ahli. Tidak sedikit yang terjerumus pada “kesesatan” ini, yaitu dengan memperhatikan dan membanggakan anak yang dianggapnya cerdas, dan cenderung mengucilkan anak yang dianggapnya bodoh dan tidak cerdas. Padahal, sebutan anak bodoh dan tidak cerdas tidaklah tepat, bertentangan dengan teori Multiple Intellegences (MI) yang ditemukan oleh Howard Gardner. Gardner mengemukakan bahwa setiap anak manusia adalah cerdas. Paling tidak, ada 8 kecerdasan yang dimiliki oleh manusia, yaitu kecerdasan matematis, intra-personal, emosional, linguistik, musikal, kinestetik, dan seterusnya. Artinya, setiap anak adalah cerdas. Tidak ada anak yang bodoh. Hanya saja, setiap anak memiliki kecenderungan dan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda dalam variasi kecerdasan tersebut. Ada anak yang kurang pandai matematika, namun berprestasi dalam olah raga. Ada anak yang kurang suka dalam bidang olah raga, namun mahir dalam berkomunikasi, berpidato dan berbahasa, dan lain sebagainya.
Pengalaman hidup mengisahkan bahwa optimisme dipengaruhi utamanya oleh orang tua dan guru yang percaya akan kemampuan dan suka membesarkan diri seseorang. Saat anak kita belajar naik sepeda, lantas ia terjatuh. Apa kita akan mengatakan kepadanya?
“Sudahlah, berhenti saja. Kamu tidak usah belajar naik sepeda. Kamu tidak akan bisa.”
Ataukah?
“Tidak apa-apa, Kamu jangan menyerah. Kamu berlatih terus-menerus, lambat-laun, kamu pasti bisa. Tetaplah bersemangat!”
Disaat kita sedang memperbaiki motor yang rusak, lalu anak kita berumur lima tahun ikut nimbrung pegang alat otomotif. Apa yang akan kita lakukan? Membiarkannya ikut “membantu”, dengan memberinya obeng untuk dibuatnya main, ataukah “mengusir”nya dengan cara halus, karena dianggap mengganggu pekerjaan kita?!
Saat kita sedang memperbaiki laptop yang rusak, lalu anak kita ikut-ikut dan selalu bertanya ini apa?, apakah ini bisa diperbaiki, ini saya ambil boleh, dan sebagainya, Apakah kita bentak karena mengganggu atau kita arahkan untuk melihat apa yang kita lakukan.
Saat anak kita hendak main ke sungai? Apakah kita melarangnya karena khawatir tenggelam, ataukah menemaninya untuk melatihnya berenang?!
Kerap kali, kita sebagai guru, lupa bahwa tanggung jawab kita bukan hanya mensukseskan anak-anak murid yang kita anggap cerdas dan pandai. Kita cenderung mengelu-elukan anak yang kita anggap cerdas dan berprestasi, namun terhadap anak-anak kita yang kita anggap tidak cerdas, pas-pasan, kita sering mengabaikan, memandang sebelah mata dan bahkan memarginalkan. Terkadang, kita menyanjung dan membanggakan anak didik kita yang diterima di perguruan tinggi favorit, luar negeri atau yang berprestasi. Namun, memandang sebelah mata anak didik kita yang menjadi tukang becak, buruh panggul, tukang parkir, seniman, pedagang warkop, dsb. Semoga kita segera sadar, evaluasi dan perbaiki diri. Berusaha menjadi guru bagi manusia. Sebab, kepercayaan diri manusia akan terbangun kuat ketika mereka dipercayai dan diberikan kepercayaan.
Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana cara mendidik anak agar tumbuh menjadi orang yang optimis? Berikut adalah beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menanamkan sikap optimis pada jiwa anak :
1. Menjadi teladan bagi anak
Sifat alamiah anak adalah meniru perilaku orang-orang di sekitarnya, khususnya orangtua dan juga guru. Karena itu, cara paling baik dan efektif untuk menumbuhkan sikap optimis pada anak adalah dengan memberikan contoh perbuatan yang nyata. Misalnya Anda sekeluarga terjebak macet di jalan. Jangan ikut-ikutan mengeluh dan berkata seperti, “Waduh, kalau begini kita pasti bakal terlambat!”. Justru katakan hal-hal yang positif seperti, “Jalannya masih macet, nih. Tapi nanti di depan ada jalan pintas yang lebih lancar! Siapa mau bantu Ayah mencari belokan jalan pintasnya?” Intinya adalah fokus pada pemecahan masalahnya, jangan pada kesulitan yang sedang dirasakan saat ini. Anak pun akan belajar menumbuhkan sikap optimis dan mencari jalan keluar dari orangtuanya.
2. Berikan tanggung jawab pada anak Anda
Anda bisa mencoba untuk memberikan anak Anda tanggung jawab, seperti meminta mereka untuk membersihkan meja makan. Hal ini akan membuat anak Anda merasa memiliki tanggung jawab. Namun, jika mereka gagal atau melakukan kesalahan, Anda tidak boleh membentak atau memarahinya. Berikan mereka petunjuk cara melakukannya dengan benar, dan berikan penghargaan atas usaha yang telah mereka lakukan.
3. Dengarkan anak Anda
Bila anak Anda menghadapi masalah dan mencoba memberi tahu Anda, dengarkan mereka dengan penuh perhatian. Cobalah untuk memahami perasaan mereka. Hal ini bisa membuat mereka terbuka dengan apa yang mereka rasakan dan akan memberikan mereka kekuatan untuk bertindak.
4. Beri dukungan
Setiap anak akan memiliki ketakutan yang berbeda. Anda tentu tidak dianjurkan menyalahkan ketakutan tersebut dengan, “Begitu saja, kok, takut?” dan ungkapan lainnya yang semakin membuat anak Anda rendah diri. Sebaliknya, Anda bisa membantu anak melawan rasa takut dengan, “Kamu pasti bisa mengerjakan ulangan hari ini. Semalam, kan, sudah belajar sama Ibu.” Atau, “Ayah yakin kamu bisa, jadi kamu juga harus yakin,”. Hal ini bisa membantu meningkatkan rasa percaya diri dan sikap optimis anak Anda.
5. Biarkan anak yang mencari jalan keluar
Sebagai orangtua, wajar jika selalu ingin membantu anak menyelesaikan masalah. Namun sebaiknya, Anda perlu melibatkan anak Anda dalam memecahkan masalah. Hal ini bisa membantu meningkatkan kemampuan anak Anda dalam memecahkan masalah, sehingga bisa lebih percaya diri dan optimis dalam menghadapi masalah atau tantangan selanjutnya. Contohnya, anak lupa membawa kotak pensilnya dan baru ingat dalam perjalanan ke sekolah. Daripada langsung menyuruh anak untuk beli pensil di koperasi sekolah, pancing anak untuk berpikir sendiri apa jalan keluarnya. Misalnya dengan bilang, “Kalau tidak bawa kotak pensil, lalu bagaimana supaya kamu bisa menulis hari ini?” Biarkan anak mengeksplor berbagai pilihan seperti pinjam punya teman, putar balik ke rumah, dan beli pensil di koperasi. Tugas Anda hanya membimbing dan mengingatkan anak konseksuensi dari setiap pilihannya. Ini supaya anak bisa menimbang sendiri mana solusi yang terbaik. Hal ini tentu jadi bekal yang sangat penting agar anak punya sikap optimis, yakin bahwa selalu ada cara yang bisa diusahakan ketika ada masalah.
6. Tetap tenang
Punya harapan soal anak itu wajar sekali. Akan tetapi, jangan sampai harapan tersebut “membutakan” Anda sehingga Anda jadi terlalu keras pada anak ketika ia menemukan kendala. Menyalahkan dan menghukum anak terus-terusan tidak akan membuat harapan Anda terkabul. Karena itu, Anda lebih dianjurkan untuk tetap tenang dan berkomunikasi dengan anak Anda untuk menanyakan kendala yang dihadapi. Orangtua yang bersikap tenang akan mampu membantu anak berpikir lebih jernih dan belajar lebih banyak dari kesalahan atau masalahnya sehingga ia tetap memiliki pikiran yang positif.
7. Tumbuhkan rasa percaya diri dalam dirinya semenjak dalam kandungan
Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kita dapat mendidik anak sejak dari dalam kandungan. Biasakanlah untuk berkata-kata lembut, bercerita tentang hal-hal yang positif juga membisikkan kata-kata yang penuh semangat.
8. Berikan stimulasi yang sesuai dengan usia dan kebutuhan si Kecil
Kelak ketika si kecil lahir, ijinkan ia untuk mencoba. Sesuaikan stimulasi yang Parentsberikan dengan usianya. Catat perkembangan dan kecenderungan minatnya, agar kelak Parents mudah menemukan cara mendidik yang sesuai dengan tipe dan karakternya.
9. Ajak anak untuk melatih instruksi diri
Ketika balok yang ia susun bolak-balik terjatuh, atau si Usia sekolah tertunduk lesu menghadapi setumpuk tugas, bisikkan padanya, “Ayo, kamu pasti bisa. Mari, ibu/ayah temani untuk mengerjakan tugasmu satu persatu.” Untuk si Pra-sekolah kita dapat membiasakan kata affirmative melalui dongeng yang kita bacakan sebelum tidur, atau saat menemani si Kecil bermain dengan boneka. Kata-kata affirmative tidak boleh merupakan pembohongan diri. Misalkan bila si Kecil merasa takut tidak dapat mengerjakan ulangan hariannya, kita tidak boleh langsung mengajarkan ia untuk mengabaikan rasa takutnya tersebut. Kalimat yang tepat adalah, “Saya memang takut, tapi saya bisa menghadapi rasa takut ini dengan mempelajari materi sebaik-baiknya.”
10. Hindarkan si Kecil dari perkataan negatif
Rasa stres, pesimis, timbul karena cara pandang seseorang terhadap suatu masalah atau peristiwa. Biasakan untuk mensugesti si Kecil dengan pernyataan-pernyataan yang positif . Pastikan si Kecil selalu menerima komentar yang baik ketika ia mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Komentar tersebut harus mampu mengindikasi bahwa itu adalah hasil dari kejadian yang situasional, bukan memang dirinya adalah anak yang gagal. Contohnya ketika si Kecil mendapat nilai jelek dalam ulangan hariannya. Coba tanyakan padanya apakah mungkin ada cara untuk memperbaiki hasil tersebut di lain waktu?
Jadi, alih-alih mengatakan :
“Ah, kamu memang lemah dalam pelajaran bahasa”,
“Dasar, kamu saja yang tidak teliti”,
atau malah yang dengan nada bercanda, “Kamu sih, tidak duduk bareng si Juara satu, jadi tidak ketularan deh, pinternya,”
… akan lebih baik bila ajak si Kecil diskusi bagaimana cara terbaik untuk memperoleh hasil seperti yang ia inginkan.
11. Selalu ajak anak untuk berpikir optimis
Kalimat seperti :
“Akan selalu ada jalan bagiku untuk mengubah situasi”,
“Selama aku mau berusaha, pasti akan ada jalan untuk menyelesaikan masalahku”,
“Terkadang memang ada hal yang tidak bisa kita kendalikan seperti keinginan kita, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita menghadapinya,”
… akan sangat baik bila si Kecil terbiasa mendengarnya.

Untuk itu kita perlu menjadi model yang baik bagi si Kecil. Bagaimana kita bersikap saat menghadapi masalah adalah cara mendidik anak agar memiliki sikap optimis.
12. Berhenti mengeluh
“Waduh, pagi-pagi kok sudah turun hujan. Pasti terjadi kemacetan dimana-mana. Kita tidak akan bisa sampai tepat waktu di tempat kerja.” Apa Anda pernah berkata seperti itu di depan anak? Jika ya, berhentilah melakukannya. Selalu fokus pada pikiran negatif dan rasa frustasi adalah bentuk klasik dari rasa pesimis. Dan, semakin sering anak-anak kita melihat atau mendengar keluhan-keluhan, semakin besar kemungkinan ia akan menirunya. Sebagai orang tua, Anda seharusnya memiliki kemampuan untuk mengubah suasana negatif menjadi positif. Daripada mengeluh soal hujan dan jalanan macet, Anda bisa mengatakan hal positif seperti “Wah, kebetulan kita kotor banget dan belum sempat bersihkan. Lumayan, hujan ini membersihkan mobil kita dengan gratis!”
13. Memiliki harapan tinggi
Memiliki harapan yang tinggi pada anak boleh-boleh saja, kok. Misal, Anda mewajibkan anak merapikan tempat tidur sendiri setiap hari sebelum ia sarapan. Tak usah takut anak tak mampu melakukannya. Justru, harapan dari Anda akan membangkitkan perasaan positif pada anak. Ketika ia berhasil melakukan hal yang sesuai dengan harapan Anda, ia akan merasa semakin bersemangat untuk meraih pencapaian yang lebih tinggi. Ingat, ya, anak tidak akan mengembangkan sikap “saya bisa!” kecuali ia diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. “Memberi kepercayaan pada anak untuk menyelesaikan tugas akan membuatnya merasa mampu,” kata Tamar Chansky, Ph.D., psikolog anak sekaligus penulis buku Freeing Your Child from Negative Thinking.
14. Mengambil risiko
Sebagai orangtua, Anda mungkin berusaha sekuat tenaga melindungi anak dari kejadian yang membuatnya ‘jatuh’. Misal, Anda tahu anak Anda tak pandai main basket, sehingga Anda melarangnya bermain basket bersama teman-temannya yang sudah jago basket karena Anda tak ingin ia merasa malu dengan keterbatasannya itu. Padahal, melarang anak untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak dikuasainya hanya akan menurunkan rasa percaya dirinya, dan membuatnya tumbuh menjadi anak pesimis. Yang perlu Anda lakukan adalah membiarkan anak melakukan segala hal, demikian menurut Michael Thompson, Ph.D., penulis buku Homesick and Happy: How Time Away From Parents Can Help a Child Grow. Izinkan anak Anda bermain sendiri di halaman, atau pergi field trip tanpa pendamping. Kemudian, tingkatkan risikonya, misal tantang anak untuk memanjat di wall climbing atau berkemah tanpa orangtua. Dan ketika ia berkata, “Lihat aku bisa, kan!” Anda pasti akan merasa bangga. Ingat, masa depan adalah milik mereka yang mau mengambil risiko, dan bukan untuk mereka para pencari keamanan.
15. Ajak anak untuk mendekatkan diri pada Tuhan
Ajari anak untuk mengenal Tuhannya dan kembangkan keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Penyayang yang akan membantu setiap hamba-Nya yang sedang kesulitan. Studi juga telah membuktikan, bahwa mereka yang mempunyai keyakinan rohani lebih baik, mampu mengembangkan sikap positif dan optimis yang lebih baik pula.
Jadi, mari kita siapkan diri untuk menjadi model orang tua yang optimis untuk anak-anak kita.