Optimisme Akademik
Mengingat bukti pengaruh perilaku, keyakinan kognitif, dan kondisi afektif atas kepercayaan, maka konsep optimisme akademik muncul sebagai kondisi sekolah yang dapat menciptakan peluang bagi berkembangnya kepercayaan siswa. Optimisme akademik terdiri dari penekanan akademis, efikasi-kolektif, dan kepercayaan staf, yaitu konsep yang digabungkan untuk membentuk pandangan positif terhadap proses belajar mengajar di sekolah. Efikasi-kolektif adalah dimensi kognitif optimisme akademik; kepercayaan staf pada orang tua dan guru adalah dimensi afektif; dan penekanan akademik adalah dimensi perilaku.
Penekanan Akademis Hoy dan rekan-rekannya (1991) menemukan bahwa penekanan akademis sebagai properti kolektif secara positif dan langsung berhubungan dengan prestasi siswa di sekolah menengah dan tinggi, bahkan setelah mengendalikan faktor ekonomi. Dari 58 sampel sekolah menengah, aspek penekanan akademis menjadi energi yang kuat untuk efektivitas sekolah, apakah hal itu dipahami sebagai komitmen guru untuk sekolah, penilaian guru terhadap efektivitas sekolah, atau nilai tes siswa yang sebenarnya. Goddard, Sweetland, dan Hoy (2000) juga menemukan bahwa penekanan akademis adalah prediktor signifikan pada prestasi matematika dan membaca di sekolah dasar, bahkan ketika mereka dikendalikan oleh faktor sosial ekonomi siswa. Dalam sampel 45 sekolah dasar perkotaan, para peneliti menemukan bahwa penekanan akademis berkaitan positif dengan perbedaan prestasi siswa antar sekolah. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sekolah-sekolah dengan penekanan akademis yang kuat dapat mempengaruhi keberhasilan siswa miskin dan minoritas. Goddard dan rekan (2000) menyatakan bahwa di sekolah dengan penekanan akademis yang tinggi, anggota sekolah cenderung bertindak dengan disengaja untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Bukti kuat ini mendukung pentingnya penekanan akademik untuk prestasi siswa sebagai elemen penting dari lingkungan sekolah. Efikasi-Kolektif
Efikasi-kolektif adalah penilaian guru bahwa staf secara keseluruhan dapat mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk memiliki efek positif terhadap pembelajaran siswa (Goddard, Hoy, & Woolfolk Hoy, 2004). Beberapa studi termasuk milik Goddard, Hoy, dan Woolfolk Hoy (2000) menemukan bahwa peran efikasi kolektif dalam menciptakan prestasi sekolah di sekolah dasar perkotaan adalah signifikan. Selain itu, Hoy, Sweetland, dan Smith (2002) menemukan bahwa efikasi-kolektif merupakan prediktor yang menonjol terhadap prestasi siswa melebihi pengaruh status sosial ekonomi dan penekanan akademis. Mereka juga menambahkan bahwa penekanan akademis menjadi yang paling kuat ketika efikasi kolektif jelas. Selanjutnya, efikasi-kolektif dapat mengarahkan perilaku guru tidak hanya terhadap penekanan akademis, tetapi juga ketekunan, dan penguatan perilaku sosial yang kondusif di sekolah-sekolah. Efikasi-kolektif muncul sebagai komponen penting dari iklim sekolah yang positif. Kepercayaan Staf pada Orangtua dan Siswa
Kepercayaan staf didefinisikan sebagai kesediaan staf untuk terbuka terhadap orang tua dan siswa didasarkan pada keyakinan bahwa orang tua dan siswa yang baik hati, dapat diandalkan, kompeten, jujur, dan terbuka. Kepercayaan staf pada orang tua dan siswa dianggap menyatu menjadi persepsi bersama (Goddard, Tschannen-Moran, & Hoy, 2001; Hoy & Tschannen-Moran, 1999). Sama seperti penekanan akademis dan efikasi-kolektif, dapat dikatakan bahwa kepercayaan staf pada orang tua dan siswa adalah properti sekolah kolektif. Kebajikan, keterbukaan, kehandalan, kompetensi, dan kejujuran bersama-sama menciptakan sebuah konstruk terintegrasi yaitu kepercayaan staf di sekolah-sekolah (Hoy & Tschannen-Moran, 1999, 2003).
Goddard dkk. (2001) menemukan hubungan yang signifikan antara kepercayaan staf pada klien (orang tua dan siswa) dengan prestasi siswa yang lebih tinggi bahkan ketika mengendalikan SES. Hoy (2002) mereplikasi temuan ini di lingkungan sekolah tinggi, juga dengan mengendalikan SES. Ketika orang tua, siswa, dan guru berbagi tujuan pembelajaran umum, maka kepercayaan staf menjadi penting dan memberikan kontribusi untuk budaya optimisme akademik.
Karakteristik penekanan akademis, efikasi-kolektif, dan kepercayaan staf, bergabung untuk membentuk keyakinan positif tentang pengajaran dan pembelajaran di sekolah (Hoy dkk., 2006b). Artinya, masing-masing aspek optimisme dapat mempengaruhi perilaku guru. Forsyth, Adams, dan Hoy (2011) menyatakan bahwa optimisme akademik dapat mempengaruhi banyak norma, keyakinan, dan praktik organisasi di sekolah-sekolah. Perilaku dan keyakinan guru dapat menetapkan norma-norma sebagai perubahan optimisme akademik. Ketika optimisme akademik hadir di sekolah, kemungkinan perilaku positif guru, keyakinan, dan interaksi akan lebih masuk akal. Pada gilirannya, perilaku guru yang dipengaruhi oleh optimisme kemungkinan akan meningkatkan peluang bagi iklim kepercayaan.
Sumber :
Goddard, Hoy, & Woolfolk Hoy. (2004) dalam Academic Optimism of Schools: A Force for Student Achievement. Hlm 428
Godard, Roger D., Hoy, Wayne K & Anita Woolfolk Hoy. (2000). Collective Teacher Efficacy: Its Meaning, Measure, and Impact on Student Achievement Hlm 486. Diunduh dari http://aer.sagepub.com/content/37/2/479.
Goddard, Hoy, & Woolfolk Hoy (2000) dalam Academic Optimism of Schools: A Force for Student Achievement.
Goddard, Hoy, & Woolfolk Hoy, 2000; Hoy, Smith, & Sweetland, (2002) dalam Academic Optimism of Schools: A Force for Student Achievement.
Goddard et al. (2001) dalam Academic Optimism of Schools: A Force for Student Achievement.
Hoy, W. K. Dan Tschannen-Moran, M. (1999). Five Face of Trust: An Empirical Confirmation in Urban Elementary Schools. Dalam Journal of School Leadership. Vol 9.24 halaman
Hoy, W. K. Tarter, C. J., dan Woolfolk Hoy, A.W. (2006). Academic Optimism of Schools : A force for Student Achievement. Dalam American Educational Research Journal, Vol. 43 (3), 22 halaman.
Tschannen-Moran, M.,& Woolfolk-Hoy, A. (2001). Teacher efficacy: capturing an elusive construct. Teaching and Teacher Education, 17, hlm. 783-805.