Menumbuhkan Optimisme pada Siswa
Jika kita ingin tahu bagaimana masa depan suatu bangsa, maka lihatlah pendidikannya. Sebab, pendidikan adalah salah satu komponen terpenting yang menentukan nasib suatu bangsa. Banyak fakta menunjukkan bahwa negara-negara maju pasti memiliki sistem pendidikan yang baik. Contohnya Jepang, Korea Selatan, Finlandia bahkan Malaysia sudah jauh meninggalkan Indonesia. Begitu pun dengan negara-negara yang dulunya berada dalam kondisi yang tidak baik, mulai terangkat derajatnya dengan sedikit demi sedikit membenahi sistem pendidikan mereka. Hal tersebut bisa kita lihat dari negara seperti China dan India yang sudah menjadi salah satu negara yang diperhitungkan dunia.
Berbicara masalah pendidikan maka posisi guru sangatlah strategis dalam meningkatkan kwalitas pendidikan. Untuk mencapai hal tersebut maka profesionalitas guru haruslah selalu ditingkatkan. Peningkatan profesionalitas guru dapat dilakukan dengan berbagai macam. Misalnya pemerintah mengadakan program sertifikasi bagi guru. Para guru yang berhak menyandang sebagai guru profesional harus melalui tahapan dengan uji portofolio maupun jalur pendidikan.
Idealnya guru yang sudah memiliki gelar guru profesional tentunya harus banyak perubahan dalam menjalani profesinya. Mereka harus sungguh-sungguh memiliki kemampuan mengajar yang lebih baik. Walaupun pada prisipnya keberhasilan pendidikan juga salah satunya ditentukan oleh siswa sendiri. Agar para siswa sungguh menyadari akan tujuan mereka belajar salah satu yang bisa kita tanamkan pada diri mereka adalah penanaman rasa optimisme bagi mereka. Ketika mereka memiliki rasa optimisme yang kuat jelas keberhasilan mereka akan lebih baik. Mereka menatap masa depan yang lebih baik, mereka belajar memiliki harapan kelak akan menjadi orang yang berhasil.
Kembali kita tengok pesan para orangtua kepada anaknya ketika menempuh pendidikan. Kamu harus jadi orang yang lebih berhasil dari pada orang tuamu!. Ketika orang tuanya sebagai buruh tani maka diharapkan anaknya jadi pemilik pertanian. Ketika orang tuanya sebagai pesuruh anaknya diharapkan bisa jadi tata usaha atau guru. Gambaran tersebut sebenarnya kalau kita kritisi sungguh orangtua sangat kuat menanamkan rasa optimisme bagi para anaknya. Punya sikap optimis, tentu sangat penting bagi anak-anak. Ini karena optimisme terkait dengan motivasi dan kebesaran hati dalam menghadapi masalah atau dalam mewujudkan cita-cita. Anak yang optimis akan memiliki keyakinan hati yang lebih besar untuk bisa menyelesaikan masalahnya. Anak yang optimis akan memiliki motivasi yang lebih besar untuk bisa mencapai cita-citanya, targetnya atau tujuannya. Tapi bagaimana kita bisa mengajarkan mereka untuk bisa optimis? Kita tidak bisa mengajaknya dengan semata-mata menyuruh anak agar optimis. Ini tidak mungkin.
Optimisme bukan sebuah pengetahuan. Optimisme juga bukan sebuah karakter bawaan dari lahir atau karena keturunan, tapi sebuah kualitas yang didapat setelah melakukan proses pendidikan, latihan, dan pengalaman yang terus menerus. Saat yang tepat untuk mengajarkan optimisme adalah menunjukkan sikap dan sifat kita yang selalu optimis dalam menghadapi masalah hidup atau kenyataan. Dengan cara ini, anak akan langsung bisa melihat bagaimana kita ber-optimis.
Untuk menambah pemahaman anak tentang apa yang kita lakukan, temukan kalimat yang bisa menjelaskan ke anak. Misalnya petuah bijak, ungkapan pribadi yang pendek, atau ajaran yang kita pedomani. Anak akan selalu mengingat apa yang diungkapkan orangtuanya sampai tua. Ini bukan saja terjadi dalam film-film, tapi akan terjadi juga pada kita.
Mengajarkan optimisme juga bisa dilakukan saat anak menghadapi masalah, misalnya sedang gagal atau nilainya sedang jatuh atau sedang punya masalah dengan temannya. Kita bisa menceritakan pengalaman kita, menjelaskan ajaran, atau pedoman hidup kita. Mengajak anak untuk mengobservasi pengalaman orang lain, baik melalui tulisan atau tayangan, atau dengan cara langsung, juga sangat bagus untuk menularkan optimisme. Yang juga penting untuk melatih optimisme pada anak adalah selalu mengajarkan makna hidup positif, pandangan positif, dan opini yang membesarkan hati. Ini pas dilakukan saat momennya datang, misalnya sedang ada peristiwa atau masalah.
Seringkali ada hal yang dilupakan orang saat memahami atau memahamkan optimisme itu. optimisme itu bukan sekedar meyakini adanya hal-hal positif untuk semata menghibur hati, meskipun ini terkadang baik. Optimisme adalah menggunakan keyakinan itu untuk melakukan sesuatu atau mempersiapkan sesuatu. Kalau hanya meyakini, lebih-lebih keyakinan itu berlebihan atau tidak mendasar, ini bisa membahayakan. Hal inilah yang jangan sampai lupa kita ajarkan.
Lalu bagaimana seorang guru dalam menanamkan rasa optimisme kepada para siswanya? Siswa kita datang dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Mereka ada dari keluarga kaya dan terpandang tetapi juga ada dari keluarga yang kurang mampu. Bagi mereka yang dari keluarga terpandang atau orangtuanya kaya fasilitas terpenuhi seolah untuk mencapai suatu perubahan akan mudah. Mereka memiliki kesempatan menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Namun tentuya tidak jarang ada diantara mereka yang tidak menyadari akan dukungan dari orangtuanya.
Guru yang bijaksana harus mampu menyadarkan mereka akan pentingnya belajar. Kekayaan orangtua tidak selamanya akan menjamin masa depannya. Siswa harus sungguh-sungguh mempersiapkan dari sekarang untuk masa depannya. Belajar adalah tugas utamanya tanpa itu masa depan yang lebih baik tidak akan tergapai. Sedangkan bagi siswa yang dari keluarga yang kurang mampu atau kemampuan akademik siswa yang kurang, tugas guru untuk menanamkan rasa optimisme sangatlah diharapkan. Kita harus selalu memberikan motivasi kepada mereka bahwa masalah kekayaan dan fasilitas yang serba lengkap belum tentu menjamin masa depan.
Kemauan siswa untuk belajar dan belajar adalah modal utama keberhasilan hidup. Dengan fasilitas terbatas bukanlah penghambat keberhasilan dalam belajar untuk masa depan. Misalnya guru berusaha menguatkan mereka dengan memberikan contoh-contoh tokoh yang berhasil dari keluarga yang sederhana. Tentunya banyak tokoh nasional atau dunia yang berhasil berangkat dari keluarga tidak mampu. Bagi siswa yang kurang bagus dalam bidang akademik sangatlah penting untuk selalu kita tanamkan rasa optimisme kepada mereka. Kita jangan sekali-sekali mengatakan kata bodoh, tolol, dan sebaginya. Kata-kata tersebut akan mematikan semangat mereka.
Mungkin akan lebih baik kalau kita mengatakan kamu hanya kurang semangat dalam belajar atau coba kamu belajar lebih giat lagi. Dengan kata-kata tersebut siswa akan merasa bahwa dirinya dimanusiakan. Hal ini akan berpengaruh dalam semangat belajar mereka. Seorang guru yang mampu memberikan motivasi kepada para siswanya dalam belajar tentunya siswa akan memandang bahwa masa depannya ditentukan dari dirinya sendiri, merekalah layak sebagai guru yang profesional. Siswapun akan merasa senang dengan guru. Maka tugas kita yang lain sebagai guru mengajarkan ilmu pengetahuan akan mudah diserap oleh para siswa. Siswa akan memiliki semangat belajar yang bagus. Keberhasailan dalam proses belajar mengajar akan tercapai dengan maksimal.